WAKTU itu jangankan untuk kuliah,
bisa berangkat ke kota (Padang) saja adalah mimpi yang seakan mustahil bagi
anak desa terpelosok seperti kami. Aku juga dilarang oleh orang tua bahkan
untuk sekedar memikirkannya, mereka tidak ingin aku kecewa.
Aku mengerti, tapi batinku bergejolak, aku terus menyimpannya (mimpi). Untuk bisa ke kota, aku bekerja bangunan + membuat 2 lobang WC seingatku 2X2 Meter, dibayar sekitar Rp. 900. 000 untuk semuanya. Dengan keras kepala aku ke kota, mendaftar kuliah, mengikuti tes masuk, dan kemudian lulus di salah satu unversitas swasta. Mau tidak mau akhirnya orang tua luluh dan mendukungku menggapai mimpi meski dengan segala keterbatasannya.
Aku mengerti, tapi batinku bergejolak, aku terus menyimpannya (mimpi). Untuk bisa ke kota, aku bekerja bangunan + membuat 2 lobang WC seingatku 2X2 Meter, dibayar sekitar Rp. 900. 000 untuk semuanya. Dengan keras kepala aku ke kota, mendaftar kuliah, mengikuti tes masuk, dan kemudian lulus di salah satu unversitas swasta. Mau tidak mau akhirnya orang tua luluh dan mendukungku menggapai mimpi meski dengan segala keterbatasannya.
Setelah
mendapat gelar S1, entah mengapa gelora belajarku belum juga berhenti. Mustahil
dengan kondisi ekonomi yang telah kritis sebab memperjuangkan S1 sebelumnya.
Aku tidak menyerah, aku berpikir harus mencari kerja, dan membiayai kuliah S2
ku sendiri. Sungguh sulit mencari pekerjaan, di seluruh kota Padang hingga
seluruh Bukit Tinggi, mungkin tidak kurang dari 100 lamaran kerja yang sudah
dilayangkan, namun masih nihil.
Akhirnya di dalam keputusasaan, waktu itu di Bulan Ramadhan aku diterima disebuah perusahaan Finance meski hanya bertahan 2 hari karena tidak sesuai hitam di atas putih dengan apa yang terjadi, aku berhenti. Tidak lama berselang, aku datangi sebuah restoran dan diterima bekerja sebagai seorang tukang parkir+jaga malam dari jam 6 sore-jam 6 pagi, meski berat, aku menjalaninya sebab mimpi yang begitu keras merasukiku, aku tidak dapat menyerah begitu saja.
Setelah mendapatkan pekerjaan tetap, aku memberanikan diri untuk mendaftar S2 di UNP, meskipun yang aku punya hanyalah uang pendaftaran sekitar RP. 350. 000 pada waktu itu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara membayar uang kuliah tunggal (UKT) sekitar RP. 5. 500. 000 jika aku lulus tes masuk. Waktu itu yang terpikir olehku hanyalah harus lulus tes masuk terlebih dahulu dan bahwa aku harus terus bekerja keras dengan niat baik menuntut ilmu insyaAllah pasti ada jalan keluarnya.
Dan akhirnya aku lulus tes 1, ke 2, dan ke 3 hingga resmi lulus tes masuk secara keseluruhan. Waah terasa mimpi bisa merasakan menjadi mahasiswa magister bahkan begitu terpesona aku melihat disekeliling adalah orang-orang hebat. Aku hanya bengong dan serasa tidak percaya. Untuk membayar uang kuliah akhirnya ALLAH SWT memberikan reski yang tidak diduga-duga melalui pintu-pintu yang juga tidak disangka-sangka. Alhamdulillah...
Beberapa minggu bekerja sebagai tukang parkir juga sekaligus membersihkan WC dan restoran secara keseluruhan lanjut sebagai pembuat jus, Mini Market, Koki, dan supervisor sampai sekarang sudah lebih dari 2 Tahun bekerja 12 jam di malam hari tanpa tidur, hanya tidur di siang hari itupun kalau tidak ada jadwal kuliah.
Jika ada jadwal kuliah, aku bahkan sering tertidur ketika dosen menjelaskan materi namun sepertinya kawan-kawan dan dosen pun mengerti kondisiku. Tidak hanya di kelas, aku juga sering tertidur di mesjid, bahkan juga di dalam WC.
Memang impossible jika hanya dipikirkan, namun menjadi possible jika dijalani dengan ikhlas, bekerja keras, dan bersungguh-sungguh. Need For Achievement ternyata cukup ampuh membuktikan bahwa nothing is imppossible yang sering dikatakan oleh kebanyakan motivator dan orang-orang sukses.
Meski sekarang ini juga masih saja kesulitan untuk bisa lulus mendapatkan gelar, ketika kawan-kawan seangkatan sudah terlebih dahulu lulus, bahkan sudah ada yang menikah, menjadi dosen, dan tidak lagi berkutat dengan puyengnya menyelesaikan tesis, tetap saja aku merasakan syukur yang teramat besar telah diberi kesempatan menjalani mimpi remajaku yang mustahil ini adalah seakan sebuah mukjizat.
TENTANG MIMPI, ternyata memang tidak ada yang tidak mungkin. Kita hanya perlu fokus, konsisten; bekerja keras, ikhlas, sabar, berniat baik, pantang menyerah, selalu mempercayakan mimpi kepada ALLAH SWT adalah resep ampuh untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. InsyaALLAH...
dalam kekalutan
Padang, 15 Januari 2017, pukul 05. 10 WIB
Akhirnya di dalam keputusasaan, waktu itu di Bulan Ramadhan aku diterima disebuah perusahaan Finance meski hanya bertahan 2 hari karena tidak sesuai hitam di atas putih dengan apa yang terjadi, aku berhenti. Tidak lama berselang, aku datangi sebuah restoran dan diterima bekerja sebagai seorang tukang parkir+jaga malam dari jam 6 sore-jam 6 pagi, meski berat, aku menjalaninya sebab mimpi yang begitu keras merasukiku, aku tidak dapat menyerah begitu saja.
Setelah mendapatkan pekerjaan tetap, aku memberanikan diri untuk mendaftar S2 di UNP, meskipun yang aku punya hanyalah uang pendaftaran sekitar RP. 350. 000 pada waktu itu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara membayar uang kuliah tunggal (UKT) sekitar RP. 5. 500. 000 jika aku lulus tes masuk. Waktu itu yang terpikir olehku hanyalah harus lulus tes masuk terlebih dahulu dan bahwa aku harus terus bekerja keras dengan niat baik menuntut ilmu insyaAllah pasti ada jalan keluarnya.
Dan akhirnya aku lulus tes 1, ke 2, dan ke 3 hingga resmi lulus tes masuk secara keseluruhan. Waah terasa mimpi bisa merasakan menjadi mahasiswa magister bahkan begitu terpesona aku melihat disekeliling adalah orang-orang hebat. Aku hanya bengong dan serasa tidak percaya. Untuk membayar uang kuliah akhirnya ALLAH SWT memberikan reski yang tidak diduga-duga melalui pintu-pintu yang juga tidak disangka-sangka. Alhamdulillah...
Beberapa minggu bekerja sebagai tukang parkir juga sekaligus membersihkan WC dan restoran secara keseluruhan lanjut sebagai pembuat jus, Mini Market, Koki, dan supervisor sampai sekarang sudah lebih dari 2 Tahun bekerja 12 jam di malam hari tanpa tidur, hanya tidur di siang hari itupun kalau tidak ada jadwal kuliah.
Jika ada jadwal kuliah, aku bahkan sering tertidur ketika dosen menjelaskan materi namun sepertinya kawan-kawan dan dosen pun mengerti kondisiku. Tidak hanya di kelas, aku juga sering tertidur di mesjid, bahkan juga di dalam WC.
Memang impossible jika hanya dipikirkan, namun menjadi possible jika dijalani dengan ikhlas, bekerja keras, dan bersungguh-sungguh. Need For Achievement ternyata cukup ampuh membuktikan bahwa nothing is imppossible yang sering dikatakan oleh kebanyakan motivator dan orang-orang sukses.
Meski sekarang ini juga masih saja kesulitan untuk bisa lulus mendapatkan gelar, ketika kawan-kawan seangkatan sudah terlebih dahulu lulus, bahkan sudah ada yang menikah, menjadi dosen, dan tidak lagi berkutat dengan puyengnya menyelesaikan tesis, tetap saja aku merasakan syukur yang teramat besar telah diberi kesempatan menjalani mimpi remajaku yang mustahil ini adalah seakan sebuah mukjizat.
TENTANG MIMPI, ternyata memang tidak ada yang tidak mungkin. Kita hanya perlu fokus, konsisten; bekerja keras, ikhlas, sabar, berniat baik, pantang menyerah, selalu mempercayakan mimpi kepada ALLAH SWT adalah resep ampuh untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. InsyaALLAH...
dalam kekalutan
Padang, 15 Januari 2017, pukul 05. 10 WIB

Comments