Skip to main content

KENAPA MASYARAKAT TIDAK BENCI KORUPTOR?

KORUPTOR atau seseorang yang melakukan tindakan korupsi pada dasarnya merupakan tindakan yang seharusnya sangat tidak diterima di masyarakat manapun di dunia ini. Korupsi secara sosiologis termasuk ke dalam patologi sosial/penyakit masyarakat, perilaku tersebut tidak hanya mendapatkan sanksi secara hukum pidana berupa kurungan penjara, denda, bahkan hukuman mati, namun pelakunya biasanya juga mendapatkan sanksi sosial berupa pengucilan, pengusiran, dan lain sebagainya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat tersebut.

Saya mencoba melihat dari satu sisi sudut pandang permisif masyarakat terhap para koruptor, meskipun secara normatif tetap akan ada orang-orang yang idealis tetap akan menentang para koruptor. Dewasa ini sepertinya terjadi dinamika kebudayaan di dalam masyarakat kita menyangkut perihal koruptor, dimana masyarakat terkesan cenderung permisif terhadap oknum-oknum koruptor tersebut, hal ini terlihat dari adanya fenomena masyarakat tetap empati bahkan memberikan dukungan terhadap koruptor ketika ditangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), kemudian masyarakat yang masih memilih mantan napi koruptor untuk kembali mewakili mereka dalam pemerintahan melalui pencalonan di dalam pemilihan umum, dan lin sebagainya.

Fenomena-fenomena tersebut secara tidak langsung memperlihatkan bahwa kondisi psikis masyarakat begitu permisif, mudah memberi maaf, dan bisa jadi juga menganggap fenomena orang-orang yang melakukan tindakan korupsi (koruptor) tersebut sebagai hal yang sudah biasa terjadi di dalam kehidupan masyarakat sehingga seakan masyarakat tidak lagi mempersoalkan tindakan korupsi tersebut. 


Comments

Popular posts from this blog

Aku Bangga Menjadi Anak Petani, Kuli Pasar, dan Penjual Gorengan

Tulisan ini didedikasikan untuk keluargaku... Aku terlahir dengan nama Romi Misra pada hari kamis, 16 Mei 1991 dari keluarga yang kusebut Petani. Cerita semasa kecil ketika Romi kecil pernah tercebur ke dalam sawah yang kemudian bermandikan lumpur seperti sayup terdengar dikatakan oleh beberapa orang, pasti menjadi hiburan tersendiri bagi orang-orang yang menyaksikannya di kala itu. Musim ke sawah seperti sebelumnya adalah kesibukan amak di “ tanah kopuang ” menanam benih padi-mencabut benih padi-kemudian menanamnya di sawah.  Malam haru di hari yang lain disaksikan pondok kecil di tengah sawah bersama lampu minyak tanah yang kadang redup, serta suara radio usang kesayangan ayah, di sana ayah terasa begitu dekat hingga tidur berlalu dibangunkan pagi dan suara burung pipit. Aku tumbuh di dalam sebuah ruangan (seingatku 5X7 Meter) berdindingkan papan   dan anak tangga kayu yang dengan sangat bangga kusebut sebagai rumah. Setiap musim durian adalah sebagian waktu yan...

ESENSI MEMBUAT TUGAS KULIAH BERBASIS PROJECT DI ERA 4.0

script"> Dewasa ini seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin luas dan canggih, terkadang berimplikasi langsung terhadap budaya belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Di satu sisi, dinamika kebudayaan tersebut mendorong minat mahasiswa untuk menciptakan budaya belajar yang sangat termotivasi seiring dengan dukungan informasi dan infrastruktur yang sudah memadai. Di sisi lain, dinamika tersebut memunculkan tragedi budaya, dimana mahasiswa cenderung menjadi malas (budaya malas) karena mahasiswa lebih dominan menjadi pengikut ( follower ) dengan tidak memanfaatkan akses informasi yang terbuka lebar untuk lebih konstruktif mengembangkan kompetensinya, akan tetapi hanya menjadikannya sebagai media hiburan. Misalnya (curhat, stalking, menggosip, mencari follower, dll di medsos), padahal hakikatnya medsos akan lebih baik digunakan sebagai media pembelajaran, mencari informasi, menambah pengetahuan, dan yang terpenting terkhusus untuk mahasiswa...

COVER JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education

 COVER  JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education https://ejurnal.unima.ac.id/index.php/paradigma/index